Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 10

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 10

 Piool.com - Beberapa bulan setelah kerajaan Majapahit didirikan, bahaya besar pun datang. Lima belas ribu tentara yang dipimpin oleh Meng Chi datang dengan ganasnya. Chen Mien sendiri mempunyai ide aneh yang bisa menghancurkan serangan itu dalam semalam.

Akhirnya perang pun dimulai. Seratus ribu tentara dipimpin oleh Raja Wijaya sendiri berperang dengan gagahnya, namun banyak yang terbunuh karena tentara Mongol sangat ganas dan kuat. Raja Wijaya langsung kabur ke dalam hutan setelah semua tentaranya tercerai belai.


Meng Chi langsung memimpin seluruh tentaranya untuk menyerang ke dalam hutan. Karena tentara Wijaya tersisa sedikit maka dalam sekejap mereka semua menghilang didalam hutan. Pasukan Meng Chi semua masuk hingga ke tengah hutan dan tersesat. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Ternyata bubuk meriam yang dibawa Meng Chi dibakar. Seluruh hutan terbakar dan pasukan Mongol kocar-kacir. Meng Chi terpaksa harus masuk ke bagian hutan lebih dalam lagi.

Dimalam yang gelap gulita ratusan anak panah beracun dilepaskan oleh tentara Majapahit dan membunuh ratusan tentara Mongol. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, semakin mereka tercerai berai didalam hutan, semakin parah kerusakan dalam tentara yang mereka alami. Banyak tentara yang mati terkena ranjau seperti bambu tajam yang tersembunyi didalam tanah, atau kayu besar berduri yang jatuh dari atas phon besar. Meng Chi akhirnya memerintah semua tentara untuk bergabung kembali dan kabur.

Beberapa jam kemudian mereka menemui rawa-rawa, dan dipenuhi buaya. Ratusan tentara kembali terbunuh di sana. Meng Chi sendiri kehilangan lengan kirinya. Lalu ia kabur bersama ribuan tentara yang tersisa. Ia tidak bisa beristirahat, karena sistem perang tentara Majapahit adalah perang gerilya seperti yang diajukan oleh jendral Chen Mien. Panglima raksasa Mao Ton berhasil menyelamatkan Meng Chi ketika sebuah kayu besar melayang jatuh. Mao Ton menahannya dan melemparnya ke arah pasukan gerilya.

“Ayo lari!!” teriak Mao Ton dengan keras, lalu Meng Chi segera lari pergi.

Mao Ton menahan serangan tentara Majapahit agar Meng Chi dapat kabur lebih jauh. Puluhan tentara Majapahit melepaskan panah beracun, namun itu tidak cukup untuk membunuh panglima raksasa itu. Ia mencabut sebuah pohon didekatnya dan menghajar pasukan Majapahit dengan sadisnya. Tiba-tiba sebuah anak panah melayang menembus matanya. Ia lalu berteriak keras. Tiba-tiba terlihatlah Suwongso di depannya. Mao Ton lalu mencabut keluar anak panah itu dan memakan matanya sendiri. Ia lalu berteriak keras dan memukulkan pohon yang ia cabut ke tanah. Tanah langsung bergoncang dan pohon itu hancur berantakan.


Walaupun badan Suwongso besar namun ia sendiri bergetar ketika menghadapi monster itu. Mao Ton mengeluarkan rantai bola raksasanya dan diayukan secara gila. Namun anak panah yang mengenai mata kananya itu beracun sehingga mata kirinya menjadi buram. Ia tidak dapat melihat kecuali mengayunkan senjatanya secara membabi buta dan gila. Puluhan pohon hancur dan tanah menjadi bolong. Tiba-tiba rantai yang diayunkan itu tersangkut dari antara dua pohon raksasa. Melihat hal itu Suwongso mengambil kapak besar dan memenggal kepala panglima raksasa itu. Mao Ton pada saat itu tidak dapat melihat apa-apa kecuali sebuah bayangan besar menghampirinya. Lanjut baca!


Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 9

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 9

 Iklans.com - Pada malam rapat militer berikutnya Jendral Wijaya mengadakan misi rahasia untuk membunuh Jendral Subodai. Apabila misi itu berhasil maka tentara Mongol akan semakin liar dan membabi buta tentara Kediri, dan juga kepemimpinan atas semua tentara akan digantikan oleh Meng Chi. Panglima Meng Chi telah diketahui oleh WIjaya sejak dahulu bahwa kedatangannya kedua kali-nya ke Nusantara adalah untuk menjadi raja sendiri dan membelot kepada Khan (sebutan untuk kaisar di negeri Mongol).


Maka misi pun dijalankan. Akhirnya dipilihlah seorang wanita cantik untuk ditugaskan pada misi itu. Wanita itu pernah tinggal di negeri Hojo (nama kerajaan di Jepang pada waktu itu) selama dua tahun dan belajar ilmu ninja. Wanita itu keturunan bangsawan dari tanah Jawa. Keluarganya dibantai oleh tentara Kediri dan sekarang adalah tiba saatnya untuk membalas dendam. Wanita ninja ini tahu kalau misinya sangatlah penting dan berbahaya, karena apabila sukses, maka kerajaan Kediri ditafsirkan akan runtuh dalam waktu kurang dari sebulan. Akhirnya berangkatlah wanita itu.

Diperkemahan Mongol, pada malam yang gelap gulita, wanita ninja itu berpakaian baju ketat berwarna hitam, dan celana rok yang mini (seperti dalam kartun Jepang cewek ninja) sehingga ia dapat bergerak leluasa. Hanya dalam beberapa loncatan saja ia sudah mencapai atap kemah Subodai. Wanita itu pun turun ke kemahnya dengan mengigit sebuah pisau kecil. Terlihatlah jendral Subodai yang sedang tidur lelap. Wanita itupun melempar pisaunya dan meleset.

Subodai ternyata hanya pura-pura tidur saja. Tangannya yang kekar menangkap pergelangan kaki wanita itu dan ditarik secara kasar. Wanita itu jatuh tepat diranjang Subodai. Jendral yang sedang tidak bisa tidur itu langsung merobek baju wanita itu.

“Kyaa!!” teriak wanita itu.

Namun tidak ada orang yang bisa menolongnya. Wanita itu langsung menutup bajunya yang setengah robek itu, dan berusaha mundur. Namun ranjang yang empuk itu membuat gerakannya terhambat. Tangan Subodai langsung memegang dan menarik paha wanita itu. Lalu wanita itu langsung meronta-ronta namun kedua betisnya terjepit di kedua ketiak Subodai sehingga ia tidak bisa bergerak bebas lagi. Subodai langsung mengelus paha wanita itu sambil tersenyum sambil berdiri. Wanita yang tiduran di ranjang itu tidak bisa berbuat banyak selain meronta dan berteriak.

Elusan itu bertambah liar, dari paha, betis hingga ke celana dalam wanita itu yang berwarna putih. Akhirnya celana dalam itu dirobek, dan kepala Subodai langsung terjun bebas dan mendarat di vagina wanita itu. Lidah dan bibir Subodai langsung mencium, menjilat, dan menghisap vagina wanita itu. Kedua paha wanita itu di apit sehingga tidak bisa bergerak banyak. Setelah puas menjilat Subodai langsung kembali berdiri tegak dan merobek pakaian wanita itu sampai ludes. Wanita itu kembali meronta-ronta dan berteriak,


“Tolong, jangan, lepaskan aku”.
Subodai menjawab, “Kau akan kulepaskan setelah aku puas menikmatimu”.

Setelah wanita itu dibuat telanjang, Subodai langsung melepaskan kedua paha wanita itu, dan menelanjangkan dirinya. Wanita itu semakin ketakutan dan bergeser sampai ujung ranjang yang menempel ke dinding sambil menutup kedua dadanya yang montok dengan tangan. Wanita itu tidak bisa kabur karena pahanya sakit setelah dikunci sekian lama oleh sang jendral Mongol. Subodai langsung naik ke ranjang dan mencoba untuk membuka kedua kaki wanita yang disilangkan itu. Wanita itu berteriak sambil mengelengkan kepala secara keras sebagai tanda ketidak setujuannya atas tubuhnya untuk dinikmati, namun Subodai langsung membuka mulutnya yang besar dan menempelkannya ke mulut wanita yang kecil itu. Lanjut baca!


Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 8

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 8

 Tradingan.com - Lalu saat ia ingin mengeluarkan kerisnya seorang tentara memanah tangannya sehingga keris itu jatuh ke tanah, tiba-tiba di depannya muncul Jendral Subodai. Subodai langsung mencekik Sanjaya dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Dalam keadaan tercekik, Sanjaya berkata dengan suara terbata-bata,

“Siapakah.. kalian.. sebenarnya?”.
Subodai menjawab,”Orang lemah sepertimu seharusnya membusuk di neraka saja.”


Lalu cekikan itu bertambah keras, dan menghancurkan leher jendral itu. Darah bercucuran keluar dan menetes di wajah Subodai. Lalu jendral Mongol itu menjilati darah yang berada dimukanya. Hal itu membuat Suwongso terdiam dan tidak dapat berbuat apa-apa, tiba-tiba ia dikagetkan oleh tentaranya, karena sebagian tentara jatuh pingsan dan beberapa diantaranya mati ketakutan. Panglima Suwongso sekarang baru sadar mengapa pada malam sebelumnya ia dilarang oleh panglima Chen Mien untuk datang ke daerah itu.

Akhirnya benteng pun direbut, namun tentara Mongol itu langsung membakarnya, Suwongso menjadi binggung karena benteng itu dibangun didaerah yang cukup strategis untuk bertahan. Lalu ia akhirnya berkuda ke tempat sang Jendral dan mohon pamit untuk kembali ke wilayah Jendral Wijaya. Saat itu ia melihat semua wajah tentara Mongol berubah mengerikan. Wajah mereka bukan lagi tampak seperti manusia namun seperti kawanan serigala yang lapar dan haus darah. Wajah mereka semua kejam, dan tersenyum. Akhirnya sebelum Suwongso pulang ia mendengar salah seorang perwira bertanya kepada Subodai.

“Jendral, hari masih pagi. Daerah mana lagi yang harus kita makan?”

Suwongso baru sadar bahwa para tentara Mongol itu tidak perlu tempat untuk bertahan, mereka hanya tahu menyerang dan membantai. Suwongso segera pergi dari tempat itu karena takut. Saat ia kembali ke benteng Wijaya, ia langsung menceritakan semua yang ia lihat kepada semua orang.

Wijaya pun berkata,”Suwongso, apakah kau tahu kekuatan Chen Mien?”
Lalu Suwongso pun menjawab,”Iya, Ia jauh lebih kuat dariku, karena ia hampir membunuhku dulu.”
Wijaya terdiam sebentar lalu berkata,”Apabila kerajaan Sung yang banyak terdapat orang kuat seperti Chen Mien saja dapat dikalahkan oleh orang Mongol, berarti orang Mongol benar-benar bukan orang sembarangan, itulah sebabnya Chen Mien telah memberi tahu kepada kita agar hati-hati pada rapat militer tahun lalu.”
Lalu semua perwira dan panglima menjadi takut dan sadar akan kekuatan musuh yang mereka hadapi.

Dimalam harinya putri Ayu datang menjengguk panglima Chen Mien yang patah hati. Ia hanya duduk sendirian di kamarnya yang gelap dan sunyi. Kepalanya selalu tertunduk ke bawah, dan air matanya menetes setiap saat secara pelan-pelan. Ayu ikut sedih akan panglima yang setia kepada pemimpin dan kekasih ini. Ayu masuk kekamar itu dan mencoba untuk menghibur sang panglima. Namun hiburan itu tidak dapat merubah reaksi sang panglima. Ayu langsung berdiri dibelakang punggung Chen Mien yang sedang duduk dikursi dan memeluknya dari belakang. Lanjut baca!


Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 7

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 7

 Biodataviral.com - Siang dan malam mereka berkuda dan akhirnya mereka pun tiba di desa pecinaan. Di desa itu masyarakat mayoritasnya adalah warga negeri Sung, karena desa itu baru dibangun tidak lama. Terlihatlah seorang pemuda, dan berkuda ke arah Arjuna diiringi dua puluh tentara.

“Siapa kau, orang luar dilarang kemari ” kata pemuda itu.
Tanto lalu marah dan berkata, “Beraninya kau menghina kami. Kami adalah orang penting dari kerajaan Kediri. Ini adalah perwira Arjuna, anak dari Jendral Sanjaya.”
Mendengar hal itu pemuda itu langsung turun dari kuda dan membungkukan badan sebagai tanda memberi hormat.
“Maafkan kelancanganku, ternyata anda adalah anak dari Jendral yang menumpas kawanan perampok.”


Pemuda itu langsung mempersilahkan rombongan Arjuna untuk masuk ke desa itu. Pemuda itu badannya tidak begitu besar. Tingginya 178 cm, umurnya 30 tahun dan ia adalah kepala desa di daerah itu. Ia bernama Huang Man, tabib yang terkenal itu kemudian dipanggil dan memeriksa sang Jendral yang dibawa didalam kereta. Tabib itu kemudian mengatakan bahwa sang jendral terkena racun yang ganas. Hanyalah obat ginseng yang dicampur dengan tanaman dentet yang dapat mengobati racun itu. Pada saat itu tabib Xun Yang hanya mempunyai ramuan ginseng saja. Sedangkan tanaman dentet itu adalah tanaman yang sangat jarang ditemukan. Tanaman itu sangat berkhasiat dan hanya dapat tumbuh di puncak gunung Lorojangkung.

Akhirnya rombongan Arjuna pergi ke gunung itu yang ditemani oleh Huang Man. Sepanjang jalan itu entah berpuluh-puluh perampok dan binatang buas yang ditemui mereka, namun itu bukanlah masalah besar karena rombongan Arjuna jauh lebih kuat, namun sang jendral besar yang terkena racun itu tidak bisa tahan terlalu lama. Setelah mereka sampai digunung itu terlihatlah asap besar, ternyata datuk Tantong sedang membakar tanaman berkhasiat itu. Teman Arjuna, Tanto langsung berlari dan menyelamatkan salah satu tanaman itu, serta melemparnya ke Arjuna. Walau Arjuna dapat mengamankan tanaman itu, Tanto tidak sempat kabur dan mati terbakar. Dukun itu menjadi marah dan mengeluarkan panah racunnya yang berkhasiat.

“Ini adalah racun terakhirku, kalau tumbuhan ini tidak dibasmi, maka racunku bukanlah racun terhebat di Nusantara,” teriaknya.

Sinta langsung bergerak cepat dan memanah racun itu. Cairan racun itu jatuh dan meresap ke dalam tanah. Datuk itu menjadi marah dan memanggil dua ekor macan kumbang peliharaanya. Sinta langsung memanah macan yang berlari ke arahnya. Anak panah itu terkena leher macan, dan membuatnya jatuh ke tanah. Anggito dan Huang Man langsung mencabut pedangnya dan memenggal kepala macan itu. Sedangkan Arjuna yang naik pitam karena kematian temannya langsung berlari ke arah datuk itu.


Macan yang satunya lagi langsung mengejar Arjuna, dan terjadilah perkelahian yang luar biasa. Arjuna hanya berbekal pedang kecil, namun dapat membunuh macan kumbang itu. Arjuna masih belum puas, lalu mencabut kerisnya dan melompat ke arah datuk itu. Datuk itu jatuh ketanah dan berteriak tolong. Keris yang tajam dan berlikuk-likuk itu ditusuk dan ditarik di leher datuk itu secara berulang-ulang. Teman-teman Arjuna langsung berusaha menariknya pergi karena api kobaran digunung itu semakin besar. Akhirnya mereka berhasil kembali ke desa pecinaan dalam waktu tepat, dan mengobati sang jendral. Panglima Anggito langsung kembali ke benteng pertahanan untuk menjaganya. Sedangkan sang jendral harus beristirahat di desa itu selama beberapa bulan. Akhirnya Jendral itu sembuh dan kembali ke pos pertahanan. Lanjut baca!


Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 6

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 6

 Tradingan.com - Akhirnya pagi pun tiba dan hujan turun dengan derasnya. Para perwira dan panglima telah kehabisan tenaga. Mereka terus-terusan melihat bendera musuh di sekitar mereka. Akhirnya para perwira mengkhianati panglima mereka sendiri. Mereka mengikat Tanjung Palaka saat ia sedang tidur kecapaian dan mengantarnya ke Chen Mien.

Melihat hal itu Chen Mien langsung memerintah tentaranya untuk menghukum mati para perwira musuh,


“Aku paling benci para pengkhianat. Apabila panglima kalian saja bisa kalian khianati seperti ini, bagaimana dengan aku yang hanyalah perwira kecil,” kata Chen Mien dengan wajahnya yang penuh amarah.

Chen Mien langsung mengambil pisau kecil dan memotong semua tali yang mengikat panglima Tanjung Palaka serta memberinya mantel agar panglima itu terhindar dari derasnya air hujan,

“Apa-apaan ini,” tanya panglima yang sedang kebinggungan itu.
“Anda adalah panglima yang hebat. Aku benar-benar kagum pada anda sejak pertama kali kita berperang,” jawab Chen Mien.
Panglima Palaka itu terharu lalu bersujud di depan Chen dan berkata, “Aku juga sangat kagum pada anda. Anda tidak hanya kuat dan jantan, namun anda juga memiliki hati nurani yang besar. Aku Tanjung Palaka merasa sangat terhormat dapat gugur ditangan anda.”

Chen Mien langsung mempersilahkan ia berdiri dan membujuknya untuk bergabung dengan Panglima Wijaya. Ia langsung setuju dan bersumpah untuk rela mati memperjuangkan ambisi Wijaya untuk menguasai Nusantara.

Dengan bergabungnya Tanjung Palaka ratusan ribu rakyat ikut senang, karena negeri Kertanegara kuno yang telah terpecah belah, kini telah menyatu kembali. Panglima Wijaya sendiri datang ke negeri selatan dan saat ia bertemu dengan Tanjung Palaka, mereka langsung berpelukan. Ratusan ribu rakyat langsung menangis terharu karena mereka sekarang dapat bertemu kembali dengan sanak saudaranya yang terpisah lama, sejak kerajaan Kertanegara di pecah belah. Upacara itu juga sekaligus melantik Wijaya menjadi Jendral dan menguasai wilayah Kertanegara yang dulu.

Namun upacara itu tidak berakhir dengan bagus. Ada seorang tentara yang terluka berat dan berkuda ke arena upacara. Tentara itu langsung jatuh dari kuda pada saat ia melihat Jendral Wijaya,

“Perkemahan kita diserang tentara Kediri,” kata tentara itu dan menghembus napas terakhir.


Chen Mien langsung memimpin puluhan ribu tentara ke daerah itu dan menemukan banyak mayat. Para rakyat mengatakan bahwa banyak orang yang diculik termasuk putri Dwimurni sendiri. Perwira Chen langsung terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa.

Ternyata hal licik itu dilakukan oleh panglima dari Kediri, panglima Merauke. Serangan tiba-tiba itu dilakukan untuk menghancurkan kekuatan Wijaya pada saat ia tidak siap. Serangan itu berhasil, dan WIjaya harus membangun ulang kerajaannya dalam waktu paling sedikit satu setengah tahun. Putri Dwimurni ditahan di kamar panglima Merauke siang dan malam. Lanjut baca!


Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 5

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 5

 Aopok.com - Pada keesokan harinya, perang besar dimulai. Di suatu daerah dekat perbatasan, terbentanglah sawah yang luas. Terlihatlah para petani yang sedang menanam padi. Salah seorang petani terlihat lelah dan sedang berdiri sebentar untuk beristirahat setelah ia capek membungkuk lama. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh. Terjadilah gempa yang dahsyat. Air di sawah itu pun bergetar, dari pelan hingga menjadi besar. Petani itu menjadi binggung. Saat ia melihat keteman-temannya, semua petani lain pun terlihat binggung. Lalu ia mendengar suara dari atas langit.


Saat ia menoleh ke atas, terlihatlah ratusan burung terbang dengan cepat bagaikan menjauhi sesuatu daerah. Petani itu lalu melihat ke arah burung itu datang, dan saat itu ia baru sadar kalau ada asap debu yang mengepul besar ke atas. Ia menjadi takut, dan binggung entah harus kabur kemana, karena didalam hatinya ia berpikir apabila terjadi topan badai yang besar, maka lari pun percuma saja. Kemudian ada seorang petani yang berteriak di atas bukit dari arah asap debu itu.

“Oi.. Ayo cepat kemari, lihat ini!!”.

Petani itu menjadi binggung karena temannya mengajaknya untuk mendekati ke arah datangnya asap debu itu.

“Apakah dia sudah gila” pikirnya dalam hati.

Tetapi ia melihat puluhan petani lainnya berlari ke atas bukit, maka akhirnya ia pun memberanikan dirinya untuk berlari ke atas bukit. Saat ia memanjat bukit, agaklah susah dilakukan karena gempa itu masih belum berakhir. Kemudian saat ia berhasil memanjat sampai ke atas, kini ia baru tahu apa yang sedang terjadi.

Sekitar ratusan ribu tentara berkuda menyerang dari sebelah timur dan menabrak ratusan ribu tentara berkuda lainnya yang menyerang dari sebelah barat. Tanah pun bergoncang hebat akibat perang yang menggila itu. Lebih dari tiga ratus ribu tentara terlibat dalam perang yang begitu dahsyatnya. Para petani tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Tiba-tiba perang antar pasukan berkuda itu makin membesar dan para petani itu segera lari turun dari bukit itu, dan beberapa saat seketika perang itu menyebar hingga ke sawah.

Puluhan ribu tentara saling membunuh dan membuat sawah itu berubah menjadi warna merah darah. Ternyata tentara yang berperang adalah tentara Nawarjo dan tentara Wijaya. Penglima Nawarjo sendiri yang memimpin perang itu. Perang besar itu terus menyebar dan para tentara ada yang berperang sampai ke dalam hutan didekat daerah itu.

Dari jauh terlihatlah dua orang satria berbaju besi lengkap dan berkuda menerobos sekumpulan tentara. Setiap tentara yang melawan langsung habis dibabat. Ternyata mereka adalah perwira Chen Mien dan perwira Suwongso. Pasangan ganda itu berhasil menerobos ribuan tentara berkuda sampai ke sebuah kereta perang besar yang dijaga banyak tentara. Diatas kereta itu panglima Nawarjo memimpin pasukannya dalam berperang.

Melihat kedua perwira itu menyerang ke arahnya, maka Nawarjo memerintah tentara yang disekitarnya untuk memenggal perwira Suwongso. Ratusan tentara langsung menyerang membabi buta, namun badan Suwongso sangat besar, maka ia dapat menangkis serangan musuh dengan gampangnya. Suwongso lalu mengangkat salah seorang musuhnya lalu dilempar ke tentara lain.


“Cepat bunuh keparat Nawarjo, biar aku yang tangani cecurut ini,” teriak Suwongso.

Chen Mien langsung berkuda secepat kilat, ia lalu loncat dari kuda itu dan melayang sejauh tiga setengah meter. Lalu ia melempar tombaknya ke arah Nawarjo. Panglima Nawarjo lalu mengeluarkan pedangnya dan menangkisnya. Lanjut baca!


Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 4

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 4

 Topoin.com - Karena putri Dwimurni tidak dapat berbincang-bincang dengan pria yang ditaksirnya, maka ia kembali kekamarnya. Pada malam harinya ia mendengar bahwa perwira Chen Mien telah selesai mengajar ayahnya bermain permainan penguasaan wilayah (salah satu dari permainan China kuno yang mirip dengan catur). Chen Mien pun telah kembali ke kamarnya. Putri Dwimurni mengetahui bahwa itu adalah malam terakhir baginya untuk bertemu dengan sang kekasih.


Ia-pun pergi ke kamar Chen, namun sampai tengah perjalanan di dalam istana, ia merasa malu dan kembali ke kamarnya. Ia terus-terusan gelisah karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, maka setelah lama kemudian akhirnya ia berdiri dari ranjangnya dan memutuskan untuk menjengguk perwira Chen untuk yang terakhirnya.

Sesampainya ia dipintu kamar sendiri, di bukalah pintu itu dan tiba-tiba seorang pembantunya dataang dengan wajah penuh darah dan cabikan golok. Putri Dwimurni pun kaget dan berteriak.

“Putri, cepat kabur, pasukan Narwajo sudah berada dalam istana ini” kata pembantu itu, kemudian ia jatuh ke tanah dan mati seketika.

Putri Dwimurni segera lari keluar dari kamarnya dan menuju taman istana. Disana ia melihat ratusan tentara berperang dan mayat panglima Lorosawe terbaring diatas pancuran air taman.

“Ayah!!” teriak Dwimurni sambil menangis.

Kemudian ia sadar kalau di belakangnya ada seorang jahat, besar, dan penuh dengan otak busuk, berdiri dibelakanganya.

“Salam putri, Namaku Pamong, perwira tinggi yang paling dipercayai oleh panglima Narwarjo dalam melaksanakan setiap tugas.”

Pria itu badannya gendut sekali dan tingginya mencapai lebih dari dua meter. Ia lalu mengangkat golok besarnya dan bersiap untuk menghancurkan Dwimurni berkeping-keping. Tiba-tiba sebuah panah melesat menusuk lengan Pamong. Ternyata perwira Chen Mien telah datang dengan menaiki sebuah kuda. Ia melesat cepat dan mengendong putri Dwimurni ke atas kuda. Lalu mereka pun kabur sampai keluar istana.

Ratusan tentara mencoba mengejar dan membunuh mereka berdua, namun Chen Mien berhasil melindungi putri cantik itu sampai ke hutan. Namun tiba-tiba puluhan tentara bayaran muncul secara tiba-tiba didalam hutan itu. Karena harus melindungi putri itu, maka Chen Mien banyak menerima sabitan tombak dan pedang. Baju perang Chen terkoyak-koyak dan banyak darah mengalir keluar. Chen Mien terus bertahan sampai akhirnya puluhan orang itu berhasil dibunuh semua.

Putri Dwimurni duduk di depan Chen Mien dan dipeluk dari belakang agar aman. Pelukan hangat itu membuat putri Dwimurni merasa nyaman, lalu putri itu mendekatkan kepalanya ke dada Chen. Perwira Chen Mien lalu melihat wajah putri yang cantik dan terkena sinar bulan itu dengan pandangan yang hangat. Namun tiba-tiba perwira gendut Pamong muncul dengan ratusan tentara berkuda dari belakang. Chen lalu berkuda dengan kecepatan tinggi sampai keluar dari hutan itu.

Setelah sesaat kemudian perwira Pamong pun berhasil keluar dari hutan itu, namun ia tiba-tiba terdiam karena di depan hutan itu ada ribuan tentara Wijaya yang dipimpin oleh perwira Suwongso.


“Chen Mien, pergilah ke perkemahan sekarang, biar cecurut ini aku yang tangani”.

Chen Mien pun melesat cepat kabur. Badan Suwongso hampir sama besar dengan perwira Pamong. Karena mereka berdua mempunyai gengsi yang sama, maka mereka berdua turun dari kuda dan duel satu lawan satu, tanpa menggunakan senjata. Perkelahian mereka berdua disaksikan oleh ribuan tentara secara kagum. Dua perwira raksasa bergulat di bawah sinar rembulan berlangsung sangat seru. Tanah dan pasir pun terangkat dan teriakan mereka berdua membuat binatang-binatang disekitar kabur ketakutan. Mereka saling meninju dan membanting. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia